Jelang 4 Tahun
Enam bulan tinggal di Jakarta sepertinya membuat Rebellio lupa suasana laut. Terlihat dari ekspresinya yang begitu takjub memandang laut lepas, juga tawa lepasnya saat ombak datang menghampiri kakinya. Seperti baru pertama main di pantai nampaknya.
Awalnya Rebellio takut memeluk ombak, namun setelah Ibu temani dan ibu genggam erat tangannya, Rebellio mulai duduk di atas pasir. Dan ombak pun tidak lagi hanya menghampiri kakinya, tapi memeluk tubuhnya. Dia kegirangan walau sempat bilang, “Rangga takut, Ibu. Kalau sama ayah, Rangga berani loh berenang ke sana,” seraya menunjuk ke arah laut.
This slideshow requires JavaScript.
Ah, apartment megah dengan fasilitas kolam renang dan pemandangan nan cantik, ternyata membuat Rebellio jadi susah bersosialisasi. Jelas saja, setiap hari yang dikerjakan hanya nonton televisi dan berenang, tanpa ada teman sebaya yang bisa diajak berbagi mainan. Cara dia berbicara juga bukan seperti anak kecil pada umumnya. Ingatan Rebellio terlalu kuat untuk dijejali hal-hal yang tak lazim, seperti: kalau nakal nanti didatangin hantu loh! Dan dia sering mengatakan hal itu saat sedang bersama Ibu di RumahMerahMuda.
Rebellio terlihat sangat senang saat bermain bersama teman sebayanya. Dia belajar berbagi dan tidak egois akan satu mainan. Dia tidak pelit, hanya saja dia tidak suka diganggu. Kalau dia sedang serius, jangan harap dia akan melewatkan apa yang sedang menjadi pusat perhatiannya untuk sekedar menengok saat dipanggil.
Segala upaya Ibu lakukan supaya Rebellio tidak terkontaminasi oleh pernyataan-pernyataan bohong dari mulut orang-orang di sekitarnya. Namun apa daya, Ibu tidak bisa terus-terusan bersama Rebellio. Uti dan Akung lebih punya banyak waktu bersama Rebellio. Ibu harus bekerja, juga Ibu tidak bisa memenuhi setiap permintaan Rebellio yang tak terjangkau isi dompet Ibu. Maafkan Ibu ya, Sayang!
Yang harus Rebellio tau adalah: IBU SAYANG REBELLIO, DAN AKAN SELALU DEKAT DI HATI REBELLIO!
