Selamat 5 Tahun Rebellio!
Malam ini, 5 tahun yang lalu. Saat itu, ibu dengan suka hati menanti kelahiran anak pertamanya. Pembukaan 6, bidan bilang. Setelah kontraksi sedari sore, sampai larut malam hanya sampai pembukaan 6, tanpa ada kemajuan. Sedari sore juga, beberapa teman ibu sudah ribut mengurus ini itu, sementara ayah sedang sibuk bekerja.
Bidan angkat tangan, sudah nggak bisa pembukaan lagi katanya. Ibu dirujuk ke rumah sakit di tengah malam. Ayah datang dan membantu ibu pindah dari bidan ke rumah sakit. RSAB Harapan Kita yang direkomendasikan salah seorang teman ibu. Sepertinya mahal, dan ayah sudah panik kalau-kalau benar ibu harus menjalani operasi caesar.
Tapi ibu, dari hati ibu yang terdalam, yakin kalau anak pertamanya ini akan lahir dengan tidak merepotkan baik secara fisik maupun materi. Ibu hanya butuh atur nafas baik-baik untuk menenangkan pikiran dan hati. Tenang, tarik nafas dari hidung, buang dari mulut, begitu seterusnya secara teratur.
Dokter yang memeriksa kondisi ibu bilang kalau sudah pembukaan 7. Ibu lega. Ibu terus berusaha meyakinkan diri bahwa ibu bisa, anak ibu juga bisa mendukung kelancaran proses kelahiran ini. Sudah subuh, ibu harus mengisi perut, walau agak susah, mual, dan keluar lagi lewat muntah. Ayah tidur di kursi, membenamkan wajahnya di pinggir kasur.
Ketuban belum pecah sampai pembukaan 8. Dokter datang untuk membantu memecahkannya, namun sebelum sempat tangan dokter membantu ibu, ketuban sudah pecah sendiri. Airnya mengaliri tempat tidur khusus persalinan yang memang sudah didesain sedemikian rupa sehingga nyaman untuk ibu tiduri. Beberapa suster membantu mengelap perlaknya.
Sedikit lagi kata dokter. Ibu tetap tenang, tetap atur nafas baik-baik, tetap yakin kalau anak pertama ibu tidak akan menyusahkan. Dokter berpesan pada ayah supaya berjaga-jaga, kalau-kalau kepala si bayi sudah siap keluar. Langit sudah terang waktu itu. Ayah masih mengantuk lantaran tidur tidak nyenyak sejak tengah malam.
“Dokter.. Dokteeer! Sudah mau keluar bayinya,” Ayah berteriak panik.
Dokter bersama beberapa susternya datang ke ruang persalinan yang memang khusus untuk satu orang saja. Dengan cekatan mereka mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan selama prosesi persalinan. Ibu masih tenang dan mengatur nafas baik-baik. Ayah mencengkeram tangan ibu erat, erat sekali.
Sudah pembukaan sepuluh, dan bayi itu sepertinya sudah tak sabar ingin loncat ke luar. Ibu sempat kelelahan dan berhenti mengejan, tapi ayah berbisik, “Yang kuat, demi dedek.” Ibu berusaha sadarkan diri, berusaha membuka mata, berusaha tetap mengatur nafas. Ibu mengejan sesuai instruksi dari dokter.
19 Desember 2006, jam 8.47. Bayi laki-laki itu keluar dari rahim ibu. Perut ibu seperti tiba-tiba kempes. Lega rasanya, serasa membuka jaket di udara yang sangat panas. Selang beberapa waktu, ada sesuatu yang mendorong-dorong keluar lagi. Ibu pikir masih ada satu bayi lagi di dalam perut ibu, tapi ternyata tembuni si bayi yang keluar.

Ibu senang, sangat senang. Ibu bahkan tidak merasakan sakit selama prosesi persalinan sampai suster membubuhkan entah berapa jahitan. Apa yang ibu inginkan semua kesampaian. Anak laki-laki, bersih dan tampan, menangis lantang, dan sama sekali tidak merepotkan. Ayah juga senang. Setelah mengumandangkan adzan di telinga si bayi, ayah tidur pulas.
5 hari kemudian, ibu dan ayah memberi nama bayi itu:
RANGGA REBELLIO DESRANDI
Walaupun sekarang ibu sudah bukan lagi istri ayah, tapi tetap ibu Rangga. Walaupun kini jarak ibu jauh dari Rangga, tapi tetap dekat di hati Rangga.
Selamat 5 tahun jagoan ibu! Ibu yakin suatu saat nanti Rangga tau kalau ibu sungguh sangat sayang sama Rangga